Media berbagi berita & ilmu pengetahuan tentang agama Katolik

Arti kata batu sandungan dalam agama Katolik


Istilah atau kata batu sandungan, dalam agama Katolik artinya adalah sesuatu yang menghalangi rencana keselamatan untuk manusia yang dilakukan oleh Allah sendiri.

Untuk memperjelas arti batu sandungan tersebut, silahkan dibaca kutipan teks "merenung sejenak" dari teks misa Gereja Katolik St Paulus Kleco Surakarta pada hari Minggu biasa XXII tanggal 30-31 Agustus 2014  yang berjudul "YANG TERDEKAT, YANG MENJADI BATU SANDUNGAN".

Inilah beberapa paragraf bunyi teks "menenung Sejenak" tsb.
Sepekan lalu, kita mendengarkan bacaan Injil Matius, dimana Petrus dipuji Yesus sebagai yang berbahagia karena jawabannya atas pertanyaan Sang Guru, bahwa Gurunya itu adalah Mesias, Putra Allah yang hidup [Matius 16:17]. Namun benar apa yang dikatakan Yesus, bahwa jawaban Petrus itu bukan pernyataan manusia melainkan bapa-Nya yang ada di surga. 
Karena dalam bacaan Injil hari Minggu ini, Petrus yang sama dihardik Tuhan Yesus, lantaran Petrus hendak MENGHALANGI Tuhan Yesus yang harus pergi ke Yerusalem dan di sana Yesus akan menanggung banyak penderitaan dari fihak tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga. [Matius 16:21].Di antara keduabelas murid, Petrus bisa dikatakan dia adalah murid yang sangat dekat dengan Gurunya, atau mungkin juga dianggap yang terdekat oleh para murid lainnya.

Kedekatan Petrus dengan Tuhan Yesus ternyata tidak menjadi jaminan bahwa Petrus memahami dengan benar apa yang dipikirkan dan diinginkan oleh Tuhan Yesus. Hal ini jelas nampak dalam perkataan Tuhan Yesus dalam matius 16:23. Tuhan yesus sadar betul bahwa iblis yang ingin membelokkanNya dari misiNya untuk menyelamatkan dunia ini ternyata juga bisa memanfaatkan Petrus sebagai orang terdekatNya. Tuhan Yesus tidak lengah, namun tetap waspada dengan kemungkinan seperti itu. Petrus tidak sadar bahwa keinginannya untuk "melindungi" Tuhan Yesus itu sesungguhnya justru membelokkan misi Tuhan Yesus untuk menyelamatkan dunia ini. Bagi Tuhan Yesus kehadiran Sang Mesias memang membawa pembebasan dan kemenangan, tetapi bukan secara politis melainkan secara rohani. Manusia akan dibebaskan dari belenggu dosa sehingga mereka menerima anugerah keselamatan dari Allah. Untuk tercapainnya rencana Allah ini memang Tuhan Yesus harus menderita, mati dan bangkit dari kematian. kesengsaraan yang akan dialami Tuhan Yesus di Yerusalem adalah skenario Allah.

Petrus membayangkan bahwa mengikut Yesus Sang Mesias itu diliputi kenyamanan dan fasilitas. Kenyataannya Tuhan Yesus mengatakan:"Setiap orang yang mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku" [matius 16:24]. Banyak orang yang menghadapi berbagai rintangan dan tantangan dalam pelayanannya, sebagaimana Tuhan Yesus. Diperlukan kewaspadaan, sebab bukan tidak mungkin jika rintangan itu justru datangnya dari fihak-fihak yang "terdekat" dengan kita. Tuhan Yesus sungguh waspada dengan hal ini. Sehingga Dia menegur Petrus yang akan menjadi BATU SANDUNGAN pelayanan dan misinya. Penyangkalan diri dan kesetiaan dalam mengikut Tuhan adalah hal yang amat penting dalam hidup pelayanan kita. Hal ini tentunya akan menolong kita mengatasi segala bentuk "kelekatan" kita pada sesuatu atau seseorang yang bisa membelokkan kita dari rencana Allah. Oleh karena itu tetaplah waspada terhadap segala sesuatu yang "dekat" dengan kita, supaya itu semua tidak menjadi BATU SANDUNGAN bagi pelayanan dan ketaatan kita mengikuti kehendak Allah.
Bagikan:

0 komentar:

Bimbingan Katolik

Kirimkan Pesan Anda

Nama

Email *

Pesan *